Text
Marwah Di Ujung Bara
Sungguh sukar bagi seorang Fauzan Zaid mengajak teman-temannya di BEM dan para aktivis mahasiswa lainnya di seluruh Aceh untuk turun ke jalan menentang pemberlakuan status darurat militer yang akan disahkan dalam hitungan hari. Ada tekanan politik, bayang-bayang kekerasan, hingga keselamatan diri yang tak terjamin bila ia berniat menghadirkan gelombang penolakan sejuta massa serupa saat sidang rferendum 1999 dan 2000. Tak ingin Aceh menjadi tanah penuh darah, Fauzan menerobos bentangan ketakutan dengan meneriakkan petisi penolakan darurat militer seorang diri depan para petinggi militer dan tokoh sipil. Sebuah upaya gigih yang berujung pada ancaman-ancaman berikutnya.rnHampir mustahil bagi Meurah Muda melupakan kekejaman yang diderita keluarganya. Ayahnya dibunuh hanya karena informasi sepihak mata-mata militer yang keliru. Kedua kakaknya menjadi buronan aparat berdasarkan praduga berada di pihak gerakan separatis. Hingga semua kekejaman yang dialaminya itu membungkus dendamnya pada setiap orang yang berasal dari jawa. Tak terkecuali memusuhi sahabat dekatnya di awal masuk kuliah, indah Ningrum, gadis Aceh berdarah jawa.rnTak semanis dan setenang perkataan di depan sahabatnya di BEM, Al Hijri harus menekan konflik batinnya yang meradang. Menjadi aktivis mahasiswa sekaligus anggota intelijen yang memasok informasi rahasia kepada negara. Sebuah pilihan yang dianggap benar demi memulihkan perdamaian dengan caranya sendiri. Namun, kenyataan mengharuskan dirinya berhadapan dengan teman-teman dekatnya. Atas nama membela negara, berkhianat pada sahabat tak bisa dielakkan.rnDalam ketakutan rakyat Aceh dan skeptisme gerakan mahasiswa di sanalah perjuangan tokoh Aceh di Jakarta pun di ujung tanduk . Sementara, elit Jakarta dan militer bergeming untuk menjalankan misinya. Atas nama persatuan bangsa. Atas nama kehormatan, marwah, meski untuk itu darah dan nyawa siap ditumpahkan.rn
| 46684XF1 | 813 RHF m | Tersedia | |
| 558865X1 | 813 RHF m | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain